Hukum Bacaan Mad Thobii, Pengertian, Jenis, & Contohnya

 

Balitteknologikaret.co.id – Mad thobii adalah salah satu hukum bacaan yang harus dipelajari dalam ilmu tajwid. Umat muslim hendaknya mempelajari hal ini agar bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Pasalnya, jika ayat suci Al-Qur’an tidak dibaca sesuai kaidah, maka bisa saja memiliki arti yang berbeda atau melenceng.

Mad yang akan dibahas kali ini juga kerap disebut dengan mad asli. Penggunannya banyak ditemukan hampir pada keseluruhan surat pembuka hingga penutup dalam Al-Qur’an. Karena begitu penting, ketahui hukum bacaan, pengertian, cara membaca, serta contohnya dalam penjelasan di bawah!

Pengertian Mad Thobii dalam Ilmu Tajwid

Pengertian-Mad-Thobii-dalam-Ilmu-Tajwid

Dalam tajwid secara garis besar mad terbagi menjadi dua, yaitu mad asli atau yang sedang dibahas kali ini dan mad far’i. Sementara itu, mad sendiri berarti memanjangkan suara pada suatu huruf karena adanya huruf alif, wawu, dan ya’.

Sedangkan mad asli adalah hukum bacaan yang terjadi apabila terdapat salah satu dari tiga hal berikut:

  • Adanya alif yang jatuh setelah fathah
  • Adanya ya’ mati yang jatuh setelah kasrah
  • Adanya wawu mati yang jatuh setelah dhommah

Apabila mendapat salah satu dari tiga hal tersebut, maka kalimat tersebut dibaca panjang 2 harakat. Lebih mudahnya, harakan bisa disamakan dengan gerakan irama ketukan sebagai patokan tempo. Istilah dua harakat atau satu alif bisa disamakan dengan dua ketukan.

Misalnya, kalimat إِيَّكَ dibaca pendek semuanya karena tidak terdapat huruf mad asli. Namun jika mendapat huruf mad asli di dalamnya, seperti إِيَّاكَ maka harus dibaca ‘iyyaaka’. Suku kata ‘ya’ harus dipanjangkan selama dua ketukan karena terdapat alif yang jatuh setelah harakat fathah.

Jenis-Jenis Mad Thobii dan Contohnya

Jenis-Jenis-Mad-Thobii-dan-Contohnya

Jika mempelajari ilmu tajwid, maka pastilah pernah mendengar jenis-jenis mad yang ada. Mulai dari mad ‘iwad, mad wajib muttasil, mad wajib munfasil, hingga mad badal. Jenis-jenis mad selain mad asli seperti contoh tersebut dapat dipastikan masuk dalam kategori mad far’i.

Sementara pembagian jenis mad asli tidak bergantung dengan sebab lain seperti bertemu dengan hamzah atau sukun. Ketergantungan jenis mad ini hanyalah didasarkan pada bentuk huruf mad itu saja. Agar tidak bingung, langsung aja baca penjelasan lengkap terkait jenis-jenis mad asli berikut ini:

1. Mad Asli Kalimi

Jenis yang pertama kali ini adalah mad asli sebagaimana yang sudah sering ditemui. Mad asli kalimi adalah mad asli yang terlihat dalam bentuk katanya. Artinya, tanda-tanda mad asli bisa dilihat secara langsung pada bentuk kalimat tersebut.

Sama seperti cara membaca mad asli yang telah dijelaskan, panjang bacaan mad asli kalimi juga 2 harakat. Mad ini sendiri masih terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu kalimi dhahir dan muqaddar. Lebih jelasnya, perhatikan poin berikut:

Mad Asli Kalimi Dhahir

Sesuai dengan namanya, pada jenis mad asli kalimi ini maka bentuk mad tersebut terlihat dengan jelas. Pada kalimi dhahir maka alif dituliskan secara jelas terletak setelah harakat fathah. Begitu pula ya’ mati terletak setelah kasrah, dan wawu mati terletak setelah dhommah.

Contoh:

صِرَاطَ

Pada contoh kalimat di atas, maka terlihat dengan jelas bahwa alif jatuh setelah harakat fathah pada huruf ‘ro’. Dengan begitu huruf hijaiyah ‘ro’ pada kalimat di atas harus dibaca dengan lebih panjang selama 2 ketukan.

Jika terdapat mad asli yang terbaca dengan jelas, lantas apakah terdapat yang tersembunyi? Benar sekali, tentu apabila terdapat jenis seperti di atas, maka juga ada jenis yang sebaliknya. Simak jenis tersebut pada poin selanjutnya di bawah ini!

Mad Thobii Muqaddar

Pada jenis muqaddar kali ini huruf mad yang tertuliskan dalam suatu kalimat tidak dapat dilihat secara langsung. Hal ini karena rasm atau tulisannya terbuang. Namun jenis ini masih termasuk dalam mad asli kalimi. Pasalnya, masih terdapat tanda yang menunjukkan bahwa kalimat tersebut berhukum mad asli.

Contoh:

الرَّحْمَٰنِ

Pada contoh di atas, terdapat bacaan mad asli walau tidak ada alif yang jatuh setelah harakat fathah. Tanda memanjang ke atas yang terdapat di atas huruf mim adalah bentuk mad asli yang tersamarkan. Namun tetap saja dalam membacanya, huruf mim harus dipanjangkan hingga 2 harakat.

Dari sini dapat dipahami bahwa mad asli terjadi apabila juga terdapat tanda seperti contoh di atas.

2. Mad Thobii Harfi

Mad asli harfi adalah panjang yang ditemukan pada asmaul huruf (nama-nama huruf hijaiyyah). Jenis mad harfi ini dapat ditemukan pada huruf-huruf fawatihus-suwar (pembukaan surat-surat). Jenis-jenis huruf mad asli harfi mudahnya terkumpul dalam kalimat  ‘حَيٌّ طَهُرَ’ yang akan dijelaskan pada poin di bawah:

  • Huruf ya (ي) terdapat di permulaan surat Maryam dan Yasin
  • Huruf ha (ح) terdapat di permulaan surat Fushilat, Az-Zukhruf, Al-Jatsiyah, Al-Ahqaf, Ad-Dukhan, dan Asy-Syura
  • Huruf tho’ (ط) terdapat di permulaan surat Thaha, An-Naml, Al-Qashash, dan Asy-Syu’ara
  • Huruf ro’ (ر) terdapat di permulaan surat Yunus, Ar-Ra’d, Al-Hijr, Ibrahim, Hud, dan Yusuf
  • Huruf ha (ه) terdapat di permulaan surat Thaha dan Maryam

Jika mendapati huruf fawatihus-suwar di atas pada surat-surat yang telah disebutkan, maka dibaca 2 harakat.

3. Mad Asli yang Tidak Dibaca

Saat membaca ayat suci Al-Qur’an perlu diketahui bahwa terdapat beberapa mad asli yang tidak dibaca. Artinya, walau terdapat alif setelah fathah, ya’ mati setelah kasrah, atau wawu mati setelah dhommah kalimat tersebut tidak dibaca sepanjang dua ketukan.

Agar tidak bingung, langsung saja lihat contoh penggalan kalimat yang ada pada surat Al-Baqarah ayat 17 berikut:

كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ

Pada kalimat di atas, maka jika dibaca menjadi ‘kamatsalilladzistauqoda’ dan bukan ‘kamatsalilladzii’. Padahal contoh tersebut mengandung salah satu syarat mad thobii, yaitu adanya ya’ sukun setelah harakat kasrah. Namun huruf dzal yang berharakat kasrah sama sekali tidak dibaca panjang dua harakat.

Ini terjadi karena terdapat sukun yang jatuh setelah bacaan mad asli. Karena terdapat dua huruf hijaiyah sukun yang saling bertemu, yaitu ya’ sukun dan sin sukun, maka mad asli tidak terbaca. Hal ini untuk menghindari terjadinya iltiqa sakinain (pertemuan antar dua sukun).

4. Mad Asli pada Idgham Mutamatsilain

Dalam mempelajari tajwid, terdapat salah satu hukum bacaan yang bernama Idgham Mutamatsilain. Hukum ini berlaku apabila terdapat dua huruf hijaiyah yang sama saling bertemu. Maka cara membacanya adalah dengan meleburkan huruf pertama ke huruf selanjutnya.

Namun kaidah ini tidak berlaku jika huruf pertama mengandung hukum bacaan mad asli. Contohnya:

الَّذِي يُوَسْوِسُ

Dalam contoh tersebut terdapat ya’ mati dari mad asli yang bertemu dengan huruf ya’ pada kalimat yuwaswisu. Meski terdapat pertemuan antara sesama huruf ya’ bacaan tersebut tidak boleh dileburkan. Sehinga cara membacanya yang benar yaitu, ‘alladzii yuwaswisu’.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami apa saja jenis mad thobii yang harus dipelajari. Untuk lebih mudah menerapkan hukum bacaan ini, cobalah sering-sering mempraktekannya. Hal ini bisa dengan membaca Al-Qur’an dengan disemak ustadz yang sudah mengerti benar ilmu tajwid.

Baca Juga:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Balitteknologikaret.co.id