Bacaan Niat Puasa Tarwiyah Latin, Arab & Terjemahan

Balitteknologikaret.co.id – Melaksanakan berbagai amalan sunnah pada dasarnya bisa menutupi kekurangan terhadap ibadah wajib yang mungkin sempat lalai dilakukan. Salah satu amalan sunnah berpahala besar adalah puasa Tarwiyah. Lantas, seperti apa lafal niat puasa Tarwiyah beserta keutamaannya?

Pada dasarnya, ibadah sunnah ini dilaksanakan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, tepatnya pada tanggal 8. Umat muslim tidak hanya bisa berpuasa di tujuh hari pertama bulan Haji tersebut, melainkan selanjutnya terdapat puasa Tarwiyah dan Arafah.

Apa Itu Puasa Tarwiyah?

Apa-Itu-Puasa-Tarwiyah

Puasa Tarwiyah adalah salah satu jenis puasa sunnah di bulan Dzulhijjah. Adapun pelaksanaannya sendiri yaitu pada tanggal 8 bulan Haji. Seperti yang telah diketahui, pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah memang dianjurkan memperbanyak ibadah.

Mengingat bulan Haji ini termasuk asyhur al-Hurum yang artinya bulan yang dimuliakan. Dibanding bulan-bulan lainnya dalam penanggalan Islam, bulan Dzulhijjah memang memiliki sejumlah keutamaan. Banyak jenis ibadah yang bisa dilakukan agar nantinya bisa menuai pahala dan keberkahan dari-Nya.

Salah satu ibadah sunnah yang bisa dilakukan adalah puasa Tarwiyah dimana pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan puasa lainnya. Dalam artian, puasa ini dilakukan dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Puasa Tarwiyah termasuk puasa Idul Adha yang memiliki sejumlah keutamaan.

Mengingat bulan Dzulhijjah sendiri memang penuh keistimewaan sesuai dengan hadits shahih berikut ini.

 “Rasulullah Saw bersabda, ‘Tiada ada hari lain yang disukai Allah Swt untuk diisi dengan ibadah sebagaimana (kesukaan-Nya pada) sepuluh hari ini.”  (HR At-Tirmidzi)

Perbedaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

Perbedaan-Puasa-Tarwiyah-dan-Arafah

Niat puasa Tarwiyah harus dilakukan sepenuh hati, begitu pula dengan puasa Arafah. Namun sebenarnya, apa yang membedakan kedua jenis puasa sunnah ini? Perlu diingat bahwa puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8, sedangkan puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah.

Keduanya merupakan ibadah sunnah muakkad, yakni puasa yang sangat dianjurkan. Terutama bagi umat muslim yang tidak melaksanakan ibadah haji. Adapun untuk muslim yang sedang berhaji memang dilarang melakukan salah satu puasa tersebut, yakni puasa Arafah.

Hal ini karena dikhawatirkan ketika melaksanakannya ternyata sudah tanggal 10 Dzulhijjah. Perlu diingat bahwa di tanggal tersebut merupakan hari raya Idul Adha dimana umat muslim dilarang berpuasa.

Dalil Tentang Puasa Tarwiyah

Dalil-Tentang-Puasa-Tarwiyah

Sebelum melaksanakan ibadah sunnah, memang ada baiknya mencari dalilnya terlebih dahulu. Sebenarnya, sudah banyak umat muslim yang mengetahui bahwa bulan Dzulhijjah memang penuh keberkahan. Namun, tidak sedikit yang bertanya-tanya apakah lebih dulu puasa Tarwiyah atau Arafah.

Pada dasarnya, puasa Arafah sendiri dilaksanakan satu hari sebelum hari raya Idul Adha. Mengenai puasa Tarwiyah yang dilakukan pada tanggal 8 Dzulhijjah, berikut dalilnya yang berdasarkan salah satu hadits shahih nabi.

“Puasa di hari Tarwiyah akan mengampuni dosa setahun yang lalu. Sedangkan puasa Arafah akan mengampuni dosa dua tahun.”(HR Tirmidzi).

Setelah menjalankan puasa Tarwiyah, masih terdapat amalan puasa sunnah lainnya. Satu hari setelah melakukan puasa Tarwiyah, umat muslim bisa melanjutkannya dengan puasa Arafah. Namun, dengan catatan saat itu sedang tidak menjalankan ibadah haji.

“Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas.” (HR Muslim)

Niat Puasa Tarwiyah Arab dan Terjemahnya

Niat-Puasa-Tarwiyah-Arab-dan-Terjemahnya

Sebelum menjalankan suatu ibadah, setiap muslim wajib berniat karena Allah Ta’ala terlebih dahulu. Niat bisa dilafalkan maupun tidak, hal ini juga berlaku untuk ibadah puasa Tarwiyah. Niat puasa jenis ini bisa dilakukan mulai malam hari hingga menjelang subuh keesokkan harinya.

Namun, bukan berarti ketika lupa melafalkan niat akan menjadi tidak sah puasanya. Tentunya, puasa tetap bisa dilanjutkan asalakan tidak melakukan perbuatan yang membatalkan puasa. Misalnya makan, minum, dan sebagainya.

Dengan demikian, pada dasarnya niat puasa itu sendiri merupakan amalan yang bisa dilakukan ataupun tidak. Niat puasa Tarwiyah tidak hanya bisa dilakukan di malam hari. Tidak sedikit umat muslim yang lupa melafalkannya sehingga bisa dilaksanakan di waktu lain.

Niat tersebut tetap boleh dilakukan pada siang harinya, tepatnya dari pagi sebelum tergelincirnya matahari. Tentunya, dengan catatan tidak melanggar aturan yang bisa membatalkan puasa. Lalu, seperti apa lafal niat puasa Tarwiyah 2022? Berikut bacaannya.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ لِلهِ تَعَالَى

“Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i sunnati yaumit tarwiyah lillâhi ta‘ālā.”

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Tarwiyah esok hari karena Allah SWT.”

Adapun hukum puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 bulan Haji ini telah ditegaskan ulama dari Mazhab Syafi’i. Tidak hanya puasa Tarwiyah, mereka juga mengungkapkan bahwa berpuasa di tujuh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah sunnah.

Begitu pula dengan melanjutkannya berpuasa Arafah yang dilaksanakan pada tanggal 9 bulan Dzulhijjah.

Keutamaan Puasa Tarwiyah

Keutamaan-Puasa-Tarwiyah

Setelah memahami niat puasa Tarwiyah, hal yang tidak kalah penting adalah mengetahui keutamaannya. Ibadah sunnah ini dilaksanakan di bulan Dzulhijjah dimana keberkahan begitu banyak.

Disebutkan bahwa puasa Tarwiyah bisa mengampuni dosa setahun yang lalu, sebagian ulama mengungkapkan dosa-dosa yang kecil. Adapun keutamaan ini telah disebutkan dalam salah satu hadits, yaitu sebagai berikut.

صَوْمُ يَوْمَ التَّرْوِيَّةِ كَفَارَةُ سَنَة

Artinya: “Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijjah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu.”

Amalan-Amalan Sunnah di Bulan Dzulhijjah selain Puasa Tarwiyah

Amalan-Amalan-Sunnah-di-Bulan-Dzulhijjah-selain-Puasa-Tarwiyah

Selain puasa Tarwiyah, terdapat amalan-amalan lainnya yang tentunya bisa menuai pahala jika dilakukan. Sebaiknya setiap muslim memahami hal ini mengingat bulan Dzulhijjah sendiri disunnahkan untuk memperbanyak ibadah. Lalu, apa saja ibadah sunnah yang dianjurkan di bulan Haji selain puasa Tarwiyah?

1. Puasa Arafah

Seperti yang telah diketahui niat puasa Tarwiyah diucapkan pada tanggal 8 bulan Dzulhijjah. Setelah menjalani ibadah sunnah tersebut, terdapat amalan lainnya yang tidak kalah menuai pahala. Amalan tersebut adalah puasa Arafah yang bisa dilakukan pada 9 Dzulhijjah.

Adapun ibadah sunnah ini sesuai dengan apa yang disebutkan Rasulullah dalam salah satu haditsnya, yaitu sebagai berikut.

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Puasa Arafah menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan yang akan datang. [HR. Muslim]

2. Berkurban

Amalan sunnah yang satu ini tentunya sudah tidak asing dimana umat muslim dianjurkan untuk berkurban di hari raya dan hari-hari tasyrik. Ibadah yang satu ini tentunya bisa menuai pahala yang besar sesuai dengan apa yang disebutkan Rasulullah dalam haditsnya:

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

Nabi berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu. [Muttafaq ‘Alaihi]

3. Ibadah Haji

Sesuai dengan sebutan bulan Dzulhijjah, di bulan penuh keberkahan ini memang ibadah haji dilakukan dengan segala rangkaiannya. Pada dasarnya, amalan ini merupakan salah satu rukun Islam dimana seorang muslim yang mampun perlu melaksanakannya.

Sebenarnya, amalan ini memang sudah tidak asing di telinga hampir setiap muslim. Baik yang sudah pernah menunaikannya maupun belum berkesempatan mendatangi tanah suci. Adapun perintah ibadah haji ini sesuai dengan salah satu sabda nabi yaitu sebagai berikut.

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Tidak balasan lain bagi haji mabrûr kecuali surga”[HR. al-Bukhâri Muslim]

4. Berdoa Agar Ibadah Diterima

Di bulan Dzulhijjah, memang ada banyak ibadah sunnah yang bisa ditunaikan. Misalnya berpuasa yang terdiri atas puasa Dzulhijjah, puasa Tarwiyah, dan puasa Arafah. Namun, jangan lupa senantiasa berdoa agar Allah Ta’ala berkenan menerima setiap ibadah yang telah ditunaikan.

Adapun doa agar ibadah diterima ini pernah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ketika itu, keduanya telah melaksanakan perintah Allah Ta’ala untuk membangun Ka’bah di Makkah. Kemudian mereka pun mengucapkan doa sebagai berikut.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [al-Baqarah/2:127]

Perlu diingat bahwa pengucapan doa di atas merupakan salah satu wujud kehati-hatian seorang muslim.

Mungkin saja dalam melaksanakan ibadah sunnah maupun wajib kurang syarat atau alasan lainnya. Jika Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang merupakan utusan Allah saja berdoa demikian, tentunya sebagai orang biasa tentunya lebih layak mengucapkannya.

Niat puasa Tarwiyah bernilai pahala yang besar mengingat amalan ini dilaksanakan di bulan Dzulhijjah. Selain ibadah sunnah ini, terdapat jenis puasa lainnya yang dianjurkan bagi muslim yang tidak menunaikan ibadah haji.

Baca Juga: