Teks-Sejarah

Pengertian Teks Sejarah, Jenis, Struktur dan Contohnya

Pernahkah Anda membaca sebuah teks yang menceritakan tentang asal usul benda atau kronologi peristiwa di masa lampau? Itulah yang disebut dengan teks sejarah.

Pasalnya, jenis teks ini memiliki peran penting dalam memahami dan mengenang perjalanan sejarah manusia, baik itu dalam skala lokal, nasional, maupun global.

Melalui cerita sejarah, kita dapat belajar dari pengalaman masa lalu untuk menghadapi tantangan masa depan yang lebih baik. Untuk itu, mari kita ulas lebih jauh mengenai teks cerita sejarah satu ini!

Pengertian Teks Sejarah

Pengertian-Teks-Sejarah

Seperti halnya sejarah yang merupakan peristiwa yang terjadi pada masa lampau, maka teks cerita sejarah merupakan bentuk teks atau tulisan yang menceritakan sebuah kejadian masa lampau dan memiliki nilai sejarah.

Dimana bentuk teks ini dapat berupa naskah, dokumen, buku, artikel, atau catatan-catatan sejarah lainnya. Biasanya, teks ini ditulis oleh para sejarawan, ahli arkeologi, atau individu lain yang tertarik dalam mempelajari sejarah.

Namun perlu digaris bawahi, bahwa jenis ini bukanlah cerita khayalan atau imajinasi sepenuhnya. Karena meskipun tokoh dan latar peristiwa ada, namun penyajian teks nya menggunakan gaya prosa fiksi maupun nonfiksi.

Ciri-Ciri Teks Sejarah

Ciri-Ciri-Teks-Sejarah

Cerita sejarah memiliki karakteristik atau ciri-ciri yang berbeda dengan jenis teks lainnya, antara lain:

1. Disajikan Secara Kronologis

Sebaiknya dalam cerita sejarah disajikan secara kronologis supaya dapat membantu mengorganisir dan menggambarkan peristiwa sejarah secara sistematis dan koheren.

Selain itu, urutan kronologis juga memudahkan pembaca dalam memahami peristiwa yang terjadi secara berkelanjutan serta melihat hubungan sebab-akibat antara peristiwa yang satu dengan yang lain.

2. Isi Berupa Fakta

Pada teks cerita sejarah, didasarkan pada fakta dan bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Selain itu, membutuhkan akurasi dan kebenaran informasi yang disajikan, serta mengacu pada sumber-sumber yang dapat dipercaya seperti dokumen asli, arsip, catatan, atau penelitian yang telah diuji.

3. Objektivitas dan Kehati-hatian

Cerita sejarah harus bersifat objektif dan hati-hati dalam menghadapi fakta-fakta sejarah. Sejarawan atau penulis harus menghindari bias pribadi atau pendekatan yang tidak objektif dalam menginterpretasi peristiwa atau kejadian.

4. Bentuk Cerita Ulang Peristiwa Sejarah

Cerita ulang sejarah adalah gaya penulisan teks sejarah yang menggambarkan peristiwa atau kejadian sejarah secara naratif seperti sebuah cerita.

Cerita ulang sejarah cenderung mengandung unsur-unsur naratif seperti karakter, plot, konflik, dan resolusi, untuk memberikan gambaran yang lebih hidup tentang peristiwa sejarah.

Struktur Teks Sejarah

Dalam cerita sejarah harus memuat sejumlah struktur supaya pengemasan cerita lebih jelas, padat, dan koheren. Dimana struktur tersebut meliputi:

1. Orientasi

Bagian orientasi dalam cerita sejarah biasanya berisi pengenalan atau pendahuluan tentang konteks sejarah yang akan dibahas.

Pada tahap ini berisi informasi mengenai waktu, tempat, dan latar belakang sejarah yang relevan. Selain itu, akan dimuat juga tentang suasana, sudut pandang, hingga hubungan antar tokoh.

Tujuan dari bagian orientasi adalah untuk memberikan gambaran awal kepada pembaca tentang konteks sejarah yang akan dibahas, sehingga mereka memiliki pemahaman yang cukup sebelum memasuki bagian pengungkapan peristiwa.

2. Pengungkapan Peristiwa

Bagian pengungkapan peristiwa adalah inti dari teks, di mana peristiwa atau kejadian sejarah disajikan secara rinci. Bagian ini dapat berisi urutan kronologis atau berdasarkan tema peristiwa sejarah yang dijelaskan.

Selain itu, terdapat juga fakta sejarah, narasi, atau cerita mengenai peristiwa atau kejadian sejarah yang terjadi, beserta tokoh-tokoh atau individu yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Meskipun begitu, pengungkapan peristiwa dalam cerita sejarah harus didukung dengan bukti atau sumber yang dapat dipertanggungjawabkan untuk menjaga akurasi dan kredibilitas teks.

3. Konflik

Selanjutnya pada bagian ini, berfokus pada konflik atau pertentangan yang terjadi dalam peristiwa sejarah yang dijelaskan.

Bagian ini bisa berisi analisis, pemahaman, atau penjelasan lebih lanjut mengenai konflik yang terjadi, penyebab dan dampaknya, serta implikasi terhadap peristiwa sejarah yang sedang diuraikan.

4. Komplikasi

Komplikasi merupakan bagian dari cerita yang berisi konflik atau puncak masalah yang dihadapi dalam peristiwa sejarah yang sedang diuraikan.

Bagian ini biasanya memberikan ketegangan dan menghadirkan tantangan yang harus diatasi oleh tokoh-tokoh dalam peristiwa sejarah, sehingga memancing minat pembaca untuk terus membaca.

5. Resolusi

Setelah puncak masalah selesai, berlanjut ke tahap resolusi yang berfokus pada penyelesaian atau penyelesaian dari konflik atau tantangan yang dihadapi dalam bagian komplikasi.

Resolusis ini berisi deskripsi atau penjelasan mengenai bagaimana konflik diselesaikan, dampaknya terhadap peristiwa sejarah, atau bagaimana tokoh-tokoh dalam peristiwa sejarah menghadapi atau mengatasi tantangan yang dihadapi.

Resolusi dapat berupa hasil dari peristiwa sejarah yang dijelaskan, seperti perubahan sosial atau politik, kesepakatan antara pihak yang bertikai, atau hasil akhir dari peristiwa sejarah yang diuraikan.

6. Koda

Terakhir adalah bagian koda yang bersifat opsional. Biasanya berisi penutup atau kesimpulan dari cerita atau narasi sejarah yang disampaikan.

Koda dapat berisi ringkasan singkat dari peristiwa sejarah yang dijelaskan, kesimpulan atau pesan yang dapat diambil dari peristiwa, maupun refleksi dari implikasi sejarah yang relevan.

Koda dapat digunakan untuk memberikan penutup yang baik bagi teks sejarah, menggambarkan akhir dari cerita atau narasi sejarah yang telah diceritakan.

Kaidah Kebahasaan

Selain menggunakan struktur, ada baiknya dalam menulis cerita sejarah juga tetap memperhatikan kaidah kebahasaan yang sesuai dengan pedoman bahasa Indonesia yang berlaku. Dalam cerita sejarah biasanya kerap menggunakan:

1. Konjungsi Temporal

Merupakan jenis kata hubung yang digunakan untuk menghubungkan peristiwa sejarah dalam urutan waktu atau kronologis.

Kata hubung jenis ini bisa membantu dalam menyusun narasi atau cerita tentang peristiwa sejarah secara teratur, hingga mengikuti urutan waktu atau periode tertentu.

Kata yang sering digunakan adalah urutan waktu, adalah sebelum, sesudah, ketika, setelah itu, pada saat itu, dan lain sebagainya.

2. Verba Material

Verba material dalam teks sejarah merujuk pada kata kerja yang menggambarkan tindakan atau aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dalam konteks sejarah.

Kata yang digunakan biasanya berkaitan dengan perbuatan yang dilakukan oleh subjek dalam peristiwa sejarah, seperti membuat, membangun, menghancurkan, merampas, melibatkan, dan sejenisnya.

Penggunaan verba material dalam teks ini sangat penting karena dapat membantu menjelaskan tindakan konkret yang terjadi dalam peristiwa sejarah.

3. Kata Ganti Orang Ketiga

Dalam menulis ulang cerita sejarah, penulis kerap kali menempatkan dirinya sebagai orang ketiga dalam cerita. Sehingga, Ia memposisikan di luar dan seakan sedang mengisahkan orang lain di dalam cerita. Dimana kata ganti orang ketiga yang sering digunakan adalah, Ia, dia, beliau, -nya, dan mereka.

4. Kata Keterangan

Terakhir teks cerita sejarah juga sering melibatkan kata keterangan yang berfungsi memberikan informasi tambahan tentang waktu, tempat, maupun suasana yang melatarbelakangi terjadinya suatu peristiwa sejarah.

Selain itu, penggunaan kata keterangan juga memudahkan dalam memberikan konteks dan detail lebih lanjut agar pembaca dapat memahami cerita dengan baik.

Jenis-Jenis Teks Sejarah

Diketahui teks cerita sejarah dibagi menjadi dua jenis, yaitu cerita sejarah fiksi dan non-fiksi, dimana penjelasan lengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Teks Cerita Sejarah Fiksi

Merupakan jenis teks yang menggabungkan unsur-unsur sejarah dengan unsur fiksi atau imajinatif. Dimana penulis menggunakan imajinasi dan kreativitas untuk menggali peristiwa sejarah yang ada atau yang mungkin terjadi, dalam bentuk narasi atau cerita.

Biasanya bentuk cerita fiksi sejarah sering ditemui dalam beberapa karya sastra, seperti drama sejarah, novel sejarah, cerpen, roman, dan legenda.

Selain itu, teks cerita sejarah fiksi juga memiliki karakteristik atau ciri-ciri seperti:

  • Menggambarkan kehidupan tokoh lebih dalam.
  • Tidak sepenuhnya mengungkapkan karakter tokoh.
  • Alur disusun berdasarkan dunia nyata.
  • Dalam penyajiannya berdasarkan sudut pandang pengarang.

2. Teks Cerita Sejarah Non-Fiksi

Merupakan jenis teks yang berfokus pada penyampaian fakta, data, dan informasi berdasarkan pada penelitian, dokumentasi, dan analisis sejarah.

Dimana teks ini tidak mengandung unsur fiksi atau imajinatif, melainkan mengemukakan peristiwa sejarah secara objektif dan akurat.

Selain itu, jenis cerita sejarah non-fiksi hanya memiliki tiga struktur utama, yakni orientasi atau pembuka, kronologi atau rangkaian peristiwa, dan reorientasi atau bagian penutup yang bersifat opsional.

Umumnya jenis teks ini banyak ditemui pada biografi, autobiografi, catatan sejarah, cerita perjalanan, buku, jurnal, dan artikel sejarah, maupun dokumentasi sejarah lainnya.

Teks cerita sejarah non-fiksi memiliki karakteristik atau ciri-ciri sebagai berikut:

  • Menyajikan fakta yang objektif.
  • Penggambaran tokoh ditulis dengan jelas dan lengkap.
  • Rangkaian peristiwa tersusun secara kronologis.
  • Berlandaskan pada sumber-sumber sejarah

Contoh Teks Sejarah Singkat

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas terkait dengan cerita sejarah, maka berikut ini kami berikan contoh bentuk teks cerita sejarah Indonesia beserta strukturnya.

Tema: Sumpah Pemuda

Orientasi

Sumpah Pemuda adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928. Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak sejarah dalam perjuangan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan dari penjajahan Belanda.

Tak hanya itu saja, Sumpah Pemuda bahkan juga menjadi simbol persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan etnis.

Kronologi

Pada tanggal 28 Oktober 1928, dalam Kongres Pemuda II yang diadakan di Jakarta, pemuda-pemuda Indonesia yang berasal dari berbagai organisasi pemuda mengadakan pertemuan untuk membahas nasib bangsa Indonesia yang saat itu masih dijajah oleh Belanda.

Pertemuan ini dihadiri oleh lebih dari 1000 pemuda dari seluruh wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Dalam pertemuan tersebut, para pemuda sepakat untuk menyusun dan mengesahkan tiga butir sumpah yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Sumpah tersebut diucapkan secara bersama-sama oleh seluruh peserta Kongres Pemuda II dengan tekad untuk mengamalkannya dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

Reorientasi

Seiring berjalannya waktu, Sumpah Pemuda menjadi salah satu momen bersejarah yang diabadikan dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda yang dirayakan setiap tanggal 28 Oktober di Indonesia.

Peringatan ini dijadikan sebagai momentum untuk mengenang jasa dan perjuangan para pemuda Indonesia dalam merebut kemerdekaan serta sebagai ajakan untuk terus menjaga dan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Pada akhirnya, teks sejarah menjadi titik awal bagi perjalanan kita dalam memahami masa lalu dan menggali pengetahuan yang berharga untuk mengambil pelajaran di masa lalu kemudian membentuk masa depan yang lebih baik.

Baca Juga: