Category: Agama

  • Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura Bulan Muharram 1445 H

    Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura Bulan Muharram 1445 H

    Balitteknologikaret.co.id – Ada amalan sunnah di bulan Muharram yang sayang itu dilewatkan, yakni puasa Tasua dan puasa Asyura. Kedua puasa sunnah bulan Muharram tersebut diyakini mampu melebur dosa selama setahun, untuk orang yang melaksanakannya. Simak, keutamaan puasa Tasua dan Asyura di bawah ini.

    Dilansir dari laman NU Online, terdapat banyak dan keutamaan di puasa Tasua dan Asyura. Hal ini lantaran posisi bulan Muharram di awal tahun Hijriah. Oleh sebab itu, tahun baru Islam ini sangat pantas dibuka dengan puasa yang menjadi salah satu amalan paling utama.

    Dua amalan puasa sunnah Tasua dan Asyura di bulan Muharram ini sangat dianjurkan. Puasa yang dilakukan di tanggal 9-10 Muharram ini mempunyai berbagai keutamaan, yang bisa diperoleh siapapun yang melaksanakannya.

    Kapan puasa Tasua dan Asyura? Waktu pelaksanaan puasa Tasua dilakukan pada setiap tanggal 9 Muharram, sedangkan puasa Asyura dilakukan setiap tanggal 10 Muharram. Bagi umat muslim yang mengerjakannya, maka akan mendapatkan keutamaan puasa Tasua dan Asyura bulan Muharram.

    Simak keutaman puasa Tasua dan Asyura bulan Muharram 1445 H di bawah ini.

    Keutamaan Melakukan Puasa Tasua dan Asyura di Bulan Muharram 1445 H

    keutamaan puasa tasua dan asyura

    1. Derajatnya Satu Tingkat di Bawah Bulan Ramadhan

    Puasa yang dilakukan di bulan Muharram ini mempunyai derajat yang satu tingkat di bawah bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana telah disampaikan oleh Rasulullah SAW di dalam hadist riwayat Imam Muslim dan diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, yang berbunyi:

    “Rasulullah SAW bersabda: ‘Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.”

    2. Pelebur Dosa Selama Satu Tahun

    Barang siapa yang mengerjakan ibadah puasa di 10 Muharram atau puasa Ayura, maka dosanya selama satu tahun ke belakang akan diampuni dan dilebur. Hal ini sebagaimana hadist riwayat Imam Muslim yang berbunyi:

    “Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra: sungguh Rasulullah saw bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu beliau menjawab: ‘Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat’.”

    3. Satu Hari Setara dengan 30 Hari Puasa

    Puasa Tasua dan Asyura adalah puasa yang dilakukan pada bulan Muharram. Puasa yang dilakukan di bulan Muharram ini akan disetarakan dengan pahala puasa selama 30 hari penuh. Hal ini sebagaimana hadist riwayat at-Thabarani di dalam al-Mu’jamus Shaghir, di mana hadistnya Gharib akan tetapi sanadnya tak bermasalah, yang berbunyi:

    “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: ‘Rasulullah saw bersabda: ‘Orang yang berpuasa pada hari Arafah maka menjadi pelebur dosa dua tahun, dan orang yang berpuasa sehari dari bulan Muharram maka baginya sebab puasa setiap sehari pahala 30 hari puasa’.”

    keutamaan puasa tasua dan asyura muharram

    4. Pembeda Umat Islam dengan Yahudi

    Puasa Tasua dan Asyura menjadi pembeda umat Islam dengan Yahudi, di mana sama-sama berpuasa di hari Asyura. Sehingga, dianjurkan puasa Tasua di 9 Muharram dan puasa di 11 Muharram sebagai pelengkap dari puasa Asyura di 10 Muharram. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan di dalam hadist yang berbunyi:

    “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA dengan status marfu (Rasulullâh bersabda): Puasalah kalian pada hari Asyura dan bedakan dengan kaum Yahudi, puasalah kalian sehari sebelum atau sesudahnya.” (HR Ahmad).

    5. Pahala Setara 10 Ribu Malaikat’

    Keutamaan puasa Tasua dan Asyura lainnya yakni pahalanya setara dengan 10 ribu malaikat yang diberikan Allah SWT ke siapapun yang melaksanakan puasa Asyura. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam hadist yang berbunyi:

    “Barang siapa berpuasa di hari Asyura (10 Muharam), maka Allah SWT memberinya pahala 10.000 malaikat. Dan, barang siapa berpuasa di hari Asyura (10 Muharam), maka ia diberi pahala 10.000 orang berhaji dan berumrah dan 10.000 pahala orang mati syahid. Barang siapa mengusap kepala anak anak yatim di hari tersebut, maka Allah SWT menaikkan dengan setiap rambut satu derajat. Barang siapa memberi makan kepada orang mukmin yang berbuka puasa di hari Asyura, maka seolah olah ia memberi makan seluruh umat Rasulullah SAW yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka.” (HR. Muslim).

    Anjuran Untuk Melaksanakan Puasa Tasua dan Asyura

    anjuran puasa tasua dan asyura

    Dalam buku karya Ahmad Syahirul Alim berjudul ‘Rahasia Puasa Sunnah’ (2023) dijelaskan bawha, anjuran melaksanakan puasa Asyura berawal dari kebiasaan yang dilakukan orang jahiliyah di Mekkah. Di mana mereka terbiasa melakukan puasa Asyura.

    Rasulullah SAW juga tak pernah tinggal untuk melakukan puasa di hari Asyura. Begitu pula dengan para sahabat, sebagaimana telah disebutkan di dalam hadist yang berbunyi:

    “Hari Asyura ialah hari yang orang-orang Quraisy berpuasa di masa jahiliah, Nabi SAW juga berpuasa Asyura. Ketika beliau tiba di Madinah, ia berpuasa dan memerintahkan umat Islam berpuasa padanya. (Namun), ketika kewajiban puasa bulan Ramadhan diturunkan, maka mereka berpuasa bulan Ramadhan dan meninggalkan puasa Asyura. Barangsiapa yang hendak berpuasa maka berpuasalah, dan siapa yang hendak berbuka maka berbukalah,” (HR. Bukhari Muslim dari Aisyah RA).

    Anjuran puasa Asyura kemudian dipertegas saat Rasulullah SAW melihat orang Yahudi juga berpuasa di hari Asyura di Madinah. Ibnu Abbas RA pun menceritakan,

    “Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah menemukan orang-orang Yahudi berpuasa Asyura, maka beliau bertanya: ‘Hari apakah ini yang kalian berpuasa padanya?’ Mereka menjawab: ‘Inilah hari agung saat Allah Ta’ala menyelamatkan Musa dan kaumnya. Rasulullah bersabda: ‘Maka kami lebih berhak dengan Musa daripada kalian, Rasulullah pun berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa padanya.” (HR. Bukhari Muslim).

    Untuk anjuran puasa Tasua, Rasulullah SAW memerintahkan hal ini menjelang akhir hidupnya. Ketika itu para sahabat bertanya kepada beliau:

    “Wahai Rasulullah, (bukankah) hari itu hari yang diagung-agungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani?”

    Maka Rasulullah bersabda:

    “Jika datang tahun yang akan datang, insya Allah kita akan berpuasa (juga) hari kesembilan.”

    Ibnu Abbas RA berkata:

    “Maka tidak pernah datang tahun berikutnya karena Rasulullah SAW telah wafat.” (HR. Muslim)

    Jumhur ulama pun menganjurkan untuk berpuasa di hari ke-9 dan 10 Muharram. Hal ini untuk membedakan dengan puasa umat Yahudi dan Nasrani, sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah SAW.

    Itulah penjelasan mengenai apa saja keutamaan puasa Tasua dan Asyura beserta anjuran dari Rasullah SAW.

    Baca Juga:

  • Niat Sholat Qobliyah Subuh (Arab, Latin dan Terjemahan)

    Niat Sholat Qobliyah Subuh (Arab, Latin dan Terjemahan)

    Selain ada sholat wajib, ada juga sholat sunnah. Salah satu dari sholat sunnah tersebut ialah sholat qobliyah subuh atau yang biasa disebut juga dengan sholat fajar. Tentu saja, niat sholat qobliyah subuh ini berbeda dengan niat sholat sunnah yang lainnya.

    Niat ini perlu dilantunkan dengan benar dan sholat qobliyah subuh itu sendiri merupakan sholat sunnah yang sangat istimewa. Nabi Muhammad SAW sendiri rutin mengerjakan sholat sunnah satu ini. Adapun lafal niat sholat sunnah qobliyah subuh ini sebagai berikut:

    Niat Sholat Qobliyah Subuh Arab dan Artinya

    Dua Redaksi Niat Sholat Qobliyah Subuh Arab dan Artinya

    Sebagaimana yang sudah diketahui, niat merupakan salah satu rukun sholat yang wajib dibaca jika ingin sholatnya dianggap sah. Adapun redaksi niat sholat shubuh ada dua sebagai berikut:

    Versi Pertama

    اُصَلِّيْ سُنَّةَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

    Ushalli sunnatas shubhi rak’ataini lillahi ta’ala

    Artinya: Aku sengaja melaksanakan sembahyang sunnah dua rakaat karena Allah SWT

    Versi Kedua

    صَلِّى سُنَّةَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَةً لِلهِ تَعَالَى

    Ushalli sunnatash-shubhi rak’ataini qabliyyatal lillahi ta’ala

    Artinya: Aku niat sholat sunnah sebelum subuh dua rakaat karena Allah SWT

    Kapan Waktu Melaksanakan Sholat Qobliyah Subuh

    Seperti yang sudah disampaikan, sholat qobliyah subuh ini merupakan sholat fajar kalau menurut madzhab Syafi’i dan menurut pendapat jumhur ulama. Namun, sholat ini juga disebut dengan sholat sunnah barad karena pelaksanaannya yang dilakukan saat cuaca masih dingin.

    Ada juga yang menyebut sholat ini dengan shalat ghadat karena ditunaikannya saat pagi-pagi sekali. Dari nama-nama atau cara penyebutan sholat qobliyah subuh tersebut, sebenarnya sudah terlihat waktu pelaksanaannya bukan?

    Hanya saja perlu diketahui bahwa antara Madzhab Syafi’I, Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki terdapat perbedaan waktu pelaksanaan sholat sunnah ini. Untuk penjelasan lebih lengkapnya sebagai berikut:

    • Madzhab Syafi’i menerangkan bahwa pelaksanaan sholat qobliyah subuh ialah sejak terbitnya fajar shadiq sampai dengan matahari terbit. Kalau memang tidak khawatir dengan kemungkinan akan tertinggal sholat subuh, sholat ini tergolong sunnah dilakukan
    • Madzhab Hanafi menerangkan bahwa pelaksanaan sholat qobliyah subuh dilakukan ketika sudah masuk waktu subuh, namun sebelum dikumandangkannya iqomah adzan sholat subuh. Kalau waktu ini sudah terlewati, maka tidak ada kewajiban untuk meng-qadhanya, kecuali kalau sholat tersebut dilakukan bersama dengan sholat fardhu
    • Madzhab Maliki menerangkan bahwa pelaksanaan sholat qobliyah subuh dilakukan dimulai dari terbitnya fajar shadiq sampai dengan terbitnya matahari. Kalau waktu tersebut sampai terlewat, maka wajib untuk diqadha dan batas waktunya sampai dengan matahari tergelincir atau zawal

    Tata Cara dan Surat yang Dibaca Dalam Sholat Qobliyah Subuh

    Tata Cara dan Surat yang Dibaca Dalam Sholat Qobliyah Subuh

    Pada dasarnya, tata cara melakukan sholat qobliyah subuh tidak berbeda dengan sholat fardhu maupun sholat sunnah yang lainnya. Perbedaannya hanya terletak pada niat yang diucapkan. Kalau niat sholat qobliyah subuh bisa dilantunkan seperti yang sudah disebutkan di atas.

    Lalu kalau sholat yang lainnya, niatnya bisa disesuaikan dengan nama sholat yang akan dijalankan. Dengan demikian, maka tata cara sholat qobliyah subuh sebagai berikut:

    • Membaca niat sholat sebagaimana yang sudah disebutkan sebelumnya
    • Membaca takbiratul ihram atau allahu akbar seraya mengangkat tangan
    • Membaca surat Al Fatihah kemudian membaca surat pendek dalam Al-Qur’an
    • Rukuk
    • I’tidal
    • Sujud
    • Duduk di antara dua sujud
    • Sujud kembal
    • Berdiri dan ulangi lagi urutan sholat mulai dari membaca Al Fatihah di atas
    • Duduk tasyahud
    • Salam

    Waktu untuk melaksanakan sholat qobliyah ini memang singkat. Walaupun demikian, orang yang melakukannya sangat disarankan untuk membaca surat-surat pendek, dua diantaranya yang sangat dianjurkan ialah surat Al Insyirah dengan surat Al Fil.

    Namun selain kedua surat ini, Anda juga bisa membaca surat Al Baqarah ayat 136 dan surat Al Kafirun pada rakaat pertama. Adapun di rakaat kedua, bisa membaca surat Al Ikhlas atau membaca surat Ali Imran ayat 64.

    Setelah sholat qobliyah subuh ini selesai dilakukan dan jika masih ada waktu luang sampai terdengarnya adzan subuh atau jika Anda tidak khawatir akan ketinggalan sholat subuh, bisa melakukan amalan-amalan yang disebutkan di bawah ini.

    Amalan yang Bisa Dilakukan Setelah Melaksanakan Sholat Qobliyah Subuh

    Amalan yang Bisa Dilakukan Setelah Melaksanakan Sholat Qobliyah Subuh

    Nabi Muhammad SAW merupakan salah seorang teladan yang selalu memperbanyak amal soleh. Salah satu hal yang beliau lakukan ialah menunaikan sholat qobliyah subuh serta beberapa amalan lain sembari menunggu adzan subuh.

    Memang sholat qobliyah subuh dan amalan setelahnya bukan perkara yang wajib. Akan tetapi, jika Anda melakukannya, ini bisa menjadi tambahan tambahan pahala. Adapun amalan yang dimaksud meliputi doa serta dzikir sebagai berikut:

    1. Berdoa

    Selesai menunaikan sholat apa saja, umat Islam sangat disarankan untuk berdoa dan menyampaikan hajat serta rasa syukur kepada Allah SWT. Berdoa juga termasuk kegiatan yang benilai ibadah. Ada banyak doa yang bisa Anda sampaikan kepada Allah SWT setelah melaksanakan sholat qobliyah subuh.

    Doa itupun tidak harus dalam bahasa Arab. Sebab, berdoa menggunakan bahasa sehari-hari juga tidak masalah asalkan apa yang Anda maksudkan tersampaikan dengan tutur kata yang sopan kepada Allah SWT.

    2. Berdzikir

    Selayaknya berdoa, berdzikir juga merupakan hal yang bernilai ibadah. Bahkan, Nabi Muhammad SAW yang sudah Allah SWT jamin masuk surga senantiasa berdzikir kepada Allah SWT termasuk setelah melaksanakan sholat sunnah qobliyah subuh.

    Jika Anda ingin berdzikir, ada beberapa dzikir yang bisa dibaca sebagai berikut:

    • Membaca istighfar atau astaghfirullahal’adzim sebanyak 33 kali
    • Membaca surat Al Fatihah yang memiliki banyak keutamaan termasuk salah satunya mempermudah hajat agar dikabulkan oleh Allah SWT
    • Membaca ayat kursi
    • Membaca surat Ali Imran ayat 18 yang maknanya adalah hanyalah Allah SWT Sang Tuhan dan tidak ada Tuhan lain selain Dia
    • Membaca tasbih atau subhanallah sebanyak 33 kali
    • Membaca tahmid atau alhamdulillah sebanyak 33 kali
    • Membaca takbir atau allahu akbar sebanyak 33 kali
    • Membaca tahlil atau laa ilaaha illallah sebanyak 33 kali
    • Membaca surah Al Ikhlas, surah Al Falaq dan surah An Nas masing-masing satu kali

    Selain dengan urutan dzikir di atas, Anda juga bisa membaca dzikir yang lain. Kalau dalam kitab Nihayatuzzain, disebutkan bahwa dzikir ini diawali dengan bacaan ini.

    يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ لآ إلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

    Yaa hayyu yaa qoyyum laa ilaaha illa anta (sebanyak 40x)

    Baru setelah itu dilanjutkan dengan surat Al Ikhlas yang dibaca 11 kali, surat Al Falaq yang dibaca 1 kali, surat An Nas yang dibaca satu kali juga lalu dilanjutkan dengan dzikir berikut ini:

    سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ

    Subhanallah wabihamdihi subhanallahil’adzim astaghfirullah

    Setelah itu, bisa dilanjutkan dengan berbaring menghadap ke arah kanan yang tujuannya adalah agar orang yang melakukannya bisa mengingat alam kubur. Tetapi kalau tidak ingin berbaring juga tidak masalah, bisa menggantinya dengan amalan baik yang lainnya seperti membaca Al-Qur’an.

    Beberapa Keutamaan Sholat Qobliyah Subuh

    Beberapa Keutamaan Sholat Qobliyah Subuh

    Sholat qobliyah subuh memiliki sejumlah keutamaan sehingga tidak heran bahkan Nabi Muhammad SAW pun rutin menjalankannya. Beberapa keutamaan tersebut ialah:

    • Sholat qobliyah subuh lebih baik dibandingkan dunia beserta isinya dan orang yang melakukannya akan disukai Allah SWT
    • Orang yang melakukan sholat qobliyah subuh akan menerima balasan berupa rumah yang Allah SWT sediakan untuknya di surga
    • Orang yang melakukan sholat qobliyah subuh akan selalu berada dalam lindungan Allah SWT terutama jika dilengkapi dengan amalan-amalan baik yang lainnya
    • Menutup kekurangan ketika menjalankan sholat wajib. Contoh dari kekurangan ini ialah tidak khusyuk saat menjalankannya, tidak khidmat, terlalu terburu-buru, adanya bacaan yang mungkin lupa, gerakan yang tidak sempurna dan lain sebagainya

    Membiasakan diri melakukan sholat qobliyah subuh adalah hal yang sangat baik. Apalagi jika mengingat sholat ini memiliki keutamaan seperti yang sudah disebutkan di atas dan jumlah rakaatnya pun sedikit. Tetapi jangan lupa, kapanpun Anda berniat untuk melakukannya, baca niat sholat qobliyah subuh dulu ya.

    Baca Juga :

  • Niat Puasa Ganti Ramadhan Arab, Latin, dan Terjemahan

    Niat Puasa Ganti Ramadhan Arab, Latin, dan Terjemahan

    Berpuasa di bulan Ramadhan adalah salah satu kewajiban dan harus dilakukan oleh orang Islam yang memenuhi syarat. Akan tetapi, tidak semua orang bisa melakukannya secara sempurna sehingga harus menggantinya di lain hari. Untuk orang yang seperti ini, perlu mengetahui niat puasa ganti Ramadhan.

    Bacaan Niat Puasa Ganti Arab dan Artinya

    Adapun bunyi niat puasa untuk mengganti puasa yang ditinggalkan di bulan Ramadhan sebagai berikut:

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

    Artinya, “Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”

    Ketentuan dan Waktu untuk Membaca Niat Puasa Ganti Ramadhan

    Ketika Anda akan melakukan puasa untuk membayar utang puasa di bulan Ramadhan, perlu diketahui bahwa ada sejumlah ketentuan yang perlu diperhatikan. Adapun ketentuan tersebut ialah sebagai berikut:

    1. Niat Dibaca Pada Malam Hari

    Niat Dibaca Pada Malam Hari

    Ketentuan yang pertama, niat harus dibaca pada malam hari. Ketentuan pertama ini sudah sangat jelas terlihat dari makna niat yang disampaikan sebelumnya. Mengenai pelaksanaan pembacaan niat ini bisa dilakukan setelah menjalankan sholat isya agar tidak lupa dan batasnya sebelum shubuh.

    Meskipun niat terlihat sepele, namun ini juga akan menentukan sah tidaknya puasa yang dilakukan. Namun, membaca niat ini juga tidak setelah maghrib, diperbolehkannya adalah setelah isya hingga sebelum subuh.

    Berbeda dengan orang yang akan menjalankan puasa sunnah. Kalau orang yang akan berpuasa sunnah, batas niatnya adalah sebelum dhuhur dengan catatan sedari pagi masih belum makan dan minum sama sekali.

    Nah, kalau untuk puasa ganti ini, kalaupun Anda tidak sahur juga tidak masalah, misalnya karena ketiduran atau karena alasan yang lainnya. Namun kalau niat, ini adalah suatu keharusan dan menjadi salah satu penentu sah atau tidaknya puasa yang dilakukan.

    2. Puasa Ganti Tidak Digabungkan dengan Niat Puasa yang Lain

    Puasa Ganti Tidak Digabungkan dengan Niat Puasa yang Lain

    Seperti yang sudah disampaikan, menjalankan ibadah puasa Ramadhan itu adalah kewajiban. Hal ini juga menunjukkan bahwa melakukan puasa ganti juga wajib. Karena wajib, maka niat untuk puasa ganti tidak dapat digabungkan dengan puasa sunnah.

    Kalau memaksa untuk menggabungkan, maka ini akan dianggap makruh. Lalu, antara puasa sunnah dengan puasa ganti, yang harus didahulukan adalah puasa ganti terlebih dahulu. Kalau puasa ganti sudah terbayar lunas semuanya, silahkan lanjutkan dengan puasa sunnah.

    Akan tetapi, kalau misalnya puasa ganti ini dilaksanakan hanya pada hari Senin dan Kamis atau pada hari-hari lain yang disunnahkan untuk berpuasa, ini juga tidak masalah. Malah nanti orang yang melakukannya akan memperoleh dua pahala sekaligus.

    Hanya saja kembali lagi, niat yang dibaca hanyalah niat untuk mengqadha puasa Ramadhan. Bukan menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa Senin atau Kamis atau puasa sunnah lainnya.

    3. Lakukan Puasa Ganti Sesuai dengan Jumlah Puasa Ramadhan yang Ditinggalkan

    Lakukan Puasa Ganti Sesuai dengan Jumlah Puasa Ramadhan yang Ditinggalkan

    Lebih lanjut lagi, Anda harus mengganti semua puasa di bulan Ramadhan yang ditinggalkan. Kalau puasa Ramadhan yang ditinggalkan jumlahnya 6 hari, maka Anda harus menggantinya dengan 6 hari juga.

    Inilah mengapa penting sekali untuk mengingat berapa lama seseorang tidak menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Kalau memang khawatir akan terlupa, sebaiknya dicatat saja.

    Beberapa Anjuran Dalam Mengganti Puasa Ramadhan

    Beberapa Anjuran Dalam Mengganti Puasa Ramadhan

    Tentunya ada beberapa dalil yang sangat menekankan perihal mengganti puasa Ramadhan yang sudah ditinggalkan, salah satunya adalah Surat Al Baqoroh ayat 185. Karena sudah tercantum dalam Al Qur’an, otomatis mengganti puasa ini menjadi wajib hukumnya.

    Mengganti puasa bisa dilakukan setelah hari raya, karena hari raya termasuk hari yang tidak diperbolehkan untuk berpuasa. Mengganti puasa ini sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Sebenarnya batasnya adalah sampai sebelum datangnya bulan Ramadhan tahun depan.

    Tetapi segera mengganti utang puasa lebih baik agar kewajiban bisa segera selesai dan Anda juga bisa menambah pahala dengan melakukan puasa sunnah. Namun, mengganti puasa ini juga tidak boleh dilakukan pada hari-hari yang dilarang untuk berpuasa seperti dua hari raya.

    Selanjutnya mengenai penggantian puasa bulan Ramadhan yang ditinggalkan, berikut ada beberapa anjuran yang bisa diikuti.

    1. Mengingat Banyaknya Utang Puasa

    Pertama, mengingat banyaknya utang puasa. Sekali lagi, agar tidak lupa dan tidak salah, sebaiknya dicatat saja. Dengan demikian, Anda bisa membayar utang puasa ini dalam jumlah hari yang tepat, tidak kurang.

    2. Mengganti Utang Puasa Secara Perlahan

    Selanjutnya Anda bisa mengganti puasa secara perlahan-lahan. Sebenarnya terserah saja kalau ingin mengganti puasa sekaligus karena ingin tanggungan cepat-cepat selesao. Tetapi kalau tidak sanggup, mengerjakan secara perlahan juga tidak masalah.

    Biasanya, utang puasa yang dibayar sekaligus adalah utang puasa yang jumlahnya sedikit. Sedangkan yang jumlahnya banyak, sampai 10 hari misalnya, kalau tidak kuat bisa pakai sistem mencicil saja. Kalau ingin mencicil, bisa dilakukan setiap sebulan sekali atau seminggu sekali atau kapanpun.

    Tetapi, hindari menumpuk utang puasa menjelang bulan puasa Ramadhan tahun yang akan datang. Sebab, mengganti puasa dengan metode ini biasanya lebih berat.

    Golongan Orang yang Boleh Tidak Melaksanakan Puasa Ramadhan

    Golongan Orang yang Boleh Tidak Melaksanakan Puasa Ramadhan

    Seperti yang sudah disampaikan, tidak semua orang dapat menjalankan puasa Ramadhan dengan sempurna. Jika memenuhi kondisi tertentu, seseorang boleh membatalkan puasa Ramadhannya. Setidaknya ada empat golongan orang yang diperbolehkan tidak menjalankan puasa Ramadhan.

    Adapun keempat golongan yang dimaksud ialah sebagai berikut:

    1. Wanita yang Sedang Hamil dan Menyusui

    Untuk para wanita yang sedang hamil dan menyusui apabila tidak mampu untuk berpuasa Ramadhan, diperbolehkan untuk meninggalkan puasa ini. Hanya saja, kondisi sedang hamil dan menyusui ini bukan alasan bagi para wanita untuk tidak menggantinya di lain hari.

    Tetap ini akan dianggap sebagai utang yang wajib dibayar. Dengan kata lain para wanita tersebut diwajibkan untuk mengganti sebanyak puasa Ramadhan yang sudah ditinggalkan.

    2. Orang yang Sudah Lanjut Usia

    Bagi orang lanjut usia yang juga tidak mampu berpuasa juga diperbolehkan untuk tidak menjalankannya. Kalau misalnya orang ini masih tidak mampu mengganti utang puasa di bulan Ramadhan, utang tersebut bisa diganti dengan membayar fidyah.

    Adapun fidyah tersebut ialah dengan memberikan makan kepada orang fakir dan miskin sebanyak jumlah puasa yang ditinggalkannya. Untuk fidyah ini ialah setengah sha’ bisa berupa kurma atau gandum atau beras.

    Atau lebih mudahnya, kalau ingin memberikan beras, banyaknya 1,5 kg. Perlu diperhatikan untuk tidak membayar fidyah kurang dari jumlah tersebut. Tetapi kalau Anda ingin melebihkannya tidak masalah.

    3. Orang yang Masih Ada Dalam Perjalanan

    Bagi mereka yang sedang berada dalam perjalanan saat bulan Ramadhan juga boleh meninggalkan puasa Ramadhan. Tetapi dengan catatan jika perjalanan tersebut merupakan perjalanan jauh yang juga berat dan menyulitkan. Dan orang ini juga wajib mengganti puasa Ramadhan tersebut di lain hari.

    4. Orang yang Sedang Sakit

    Orang yang sedang sakit juga diberi keringanan untuk tidak melaksanakan puasa Ramadhan. Terutama jika dikhawatirkan kondisi mereka akan lebih parah jika dipaksa untuk berpuasa. Nantinya, puasa yang ditinggalkannya ini bisa diganti di lain waktu dalam kondisi sehat.

    Sebagai tambahan, selain ada golongan orang yang boleh meninggalkan puasa Ramadhan, ada juga golongan orang yang dilarang untuk berpuasa. Untuk golongan ini hanya terdiri atas wanita yang sedang mengalami haid dan juga nifas.

    Selayaknya wanita hamil dan menyusui, wanita yang sedang mengalami hadi dan nifas ini juga wajib mengganti puasa yang ditinggalkannya di lain hari.

    Jadi, sudah jelas ya bagaimana niat puasa ganti itu? Untuk selanjutnya, Anda tinggal melakukannya supaya utang puasa bisa segera lunas. Dengan demikian, Anda tidak akan memiliki beban dan bisa melaksanakan puasa sunnah. Wallahu a’lam.

    Baca Juga :

  • Niat Puasa Idul Adha Latin, Terjemahan, & Keutamaannya

    Niat Puasa Idul Adha Latin, Terjemahan, & Keutamaannya

    Balitteknologikaret.co.id – Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat muslim disunnahkan untuk berpuasa. Tidak hanya waktu pelaksanaannya yang harus diperhatikan, melainkan juga niat puasa Idul Adha itu sendiri.

    Adapun jenis puasa ini sangat dianjurkan saat sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dalam kalender Islam. Pada saat itu, ada banyak keistimewaan sehingga seorang muslim disunnahkan untuk memperbanyak amalan. Salah satunya adalah puasa Idul Adha, berikut ulasannya.

    Jenis-Jenis Puasa Idul Adha

    Jenis-Jenis Puasa Idul Adha

    Perlu diketahui bahwa sunnah berpuasa Idul Adha tidak hanya puasa Dzulhijjah saja. Melainkan terdapat amalan puasa lain yang disebut Tarwiyah dan Arafah. Pada dasarnya, ketiga jenis puasa tersebut bisa dilakukan sejak awal bulan Dzulhijjah sampai menjelang Idul Adha.

    1. Puasa Dzulhijjah

    Jenis puasa Idul Adha yang pertama adalah puasa Dzulhijjah. Amalan ini dilaksanakan pada tujuh hari pertama bulan Dzulhijjah. Banyak keutamaan yang bisa didapatkan dengan mengamalkan puasa ini.

    2. Puasa Tarwiyah

    Jika terlewat puasa Dzulhijjah, maka Anda bisa niat puasa Idul Adha lainnya. Misalnya puasa Tarwiyah yang dilaksanakan di hari ke delapan bulan Dzulhijjah. Ibadan sunnah satu ini juga memiliki keutamaan tersendiri bagi yang melaksanakannya.

    3. Puasa Arafah

    Amalan sunnah di bulan Dzulhijjah ini dilaksanakan pada hari ketujuh. Jika terlewat puasa Dzulhijjah dan Tarwiyah, maka puasa ini bisa menjadi pilihan.

    Dalil Mengenai Puasa Dzulhijjah

    Dalil Mengenai Puasa Dzulhijjah

    Sebelum melaksanakan suatu amalan, ada baiknya mengetahui dalilnya terlebih dahulu. Adapun untuk puasa Dzulhijjah sendiri memang sunnah untuk dilakukan. Hal ini merujuk pada salah satu sabda Rasulullah sebagai berikut.

    “Tidak ada hari di mana amal salih padanya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni 10 hari pertama Dzulhijjah. Para sahabat bertanya, ‘Tidak juga dari jihad fi sabilillah?’ Beliau menjawab, ‘Jihad fi sabilillah juga tidak, kecuali seseorang yang keluar dengan diri dan hartanya, lalu ia tidak kembali dengan satu pun dari keduanya.”

    Puasa menjelang Idul Adha memang besar ganjarannya. Bahkan menurut hadits di atas, amalan satu ini lebih dicintai Allah dibanding jihad fi sabilillah.

    Adapun durasi jenis puasa ini sama saja seperti puasa pada umumnya. Puasa Idul Adha dimulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam untuk berbuka.

    Niat Puasa Idul Adha Latin

    Niat Puasa Idul Adha Latin

    Seperti yang disebutkan di atas, jenis puasa Idul Adha terbagi menjadi tiga berdasarkan waktu pelaksanaannya. Amalan ini dibagi menjadi niat puasa Dzulhijjah, Tarwiyah, dan Arafah. Berniat di dalam hati sebenarnya sudah cukup, namun ada juga yang lebih suka melafalkannya.

    Bagi yang ingin mengetahui lafal niat puasa Idul Adha hari pertama dan kedua latin, maka simak ulasannya berikut ini.

    1. Niat Puasa Dzulhijjah

    Perlu diingat bahwa amalan di bulan Dzulhijjah ini dilaksanakan pada tanggal 1 sampai 7, berikut lafal niatnya dalam bacaan latin beserta artinya.

    نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ شَهْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma syahri dzil hijjah sunnatan lillahi ta’ala.”

    Artinya:

     Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah ta’ala.”

    2. Niat Puasa Tarwiyah

    Setelah memahami niat puasa Dzulhijjah, hal yang tidak kalah penting dipahami adalah niat puasa Tarwiyah. Jenis puasa ini bisa menjadi alternatif bagi seorang muslim yang terlewat puasa Idul Adha di tujuh hari pertama bulan Dzulhijjah.

    Bagi yang berniat puasa Tarwiyah, berikut lafal latin dan terjemahannya.

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ لِلهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala.”

    Artinya:

    “Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah ta’ala.”

    3. Niat Puasa Arafah

    Jika tidak sempat melaksanakan puasa Dzulhijjah maupun Tarwiyah, maka Anda bisa melakukannya pada tanggal 9 Dzulhijjah. Amalan ini disebut sebagai puasa Arafah dengan niat sebagai berikut.

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma arafata sunnatan lillahi ta’ala.”

    Artinya:

     “Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah ta’ala.”

    Mengingat ketiga jenis puasa di atas merupakan amalan sunnah, maka jika lupa mengucapkan niat bisa melaksanakannya di siang hari maupun malam hari. Pada dasarnya, puasa tetap sah selagi tidak melakukan perbuatan yang bisa membatalkan puasa.

    Jika ingin mengucapkan niat puasa akhir Idul Adha di siang hari, maka berikut merupakan lafalnya.

    Nawaitu shauma hadzal yaumi’an ada’i syahri dzil hijjah sunnatan lillahi ta’ala.”

    Artinya:

     “Saya niat puasa sunah bulan Dzulhijjah hari ini karena Allah ta’ala.

    Keutamaan Puasa Idul Adha

    Keutamaan Puasa Idul Adha

    Menjelang Idul Adha, sangat disayangkan jika umat muslim tidak melaksanakan amalan yang sudah disunnahkan. Pada dasarnya, jenis puasa menjelang hari raya ini pun tidak selalu harus dilaksanakan semuanya. Namun, tentunya akan lebih afdhal apabila melaksanakan puasa Dzulhijjah, Tarwiyah, dan Arafah.

    Lalu, apa saja keutamaan melaksanakan puasa Idul Adha ini?

    1. Telah Melaksanakan Amal Salih yang Dicintai Allah

    10 hari pertama Dzulhijjah memang penuh dengan keberkahan. Berbagai amalan shalih yang dilaksanakan di waktu tersebut begitu dicintai oleh Allah. Salah satunya adalah amalan puasa sebagai bentuk ibadah yang disunnahkan oleh nabi.

    Disebutkan bahwa beramal di waktu tersebut lebih cintai Allah. Oleh sebab itu, alangkah baiknya seorang muslim senantiasa bersemangat dalam menyambut hari-hari menjelang Idul Adha.

    2. Amalan yang Lebih Baik dari Jihad Fi Sabilillah

    Seperti yang telah diketahui, berjihad di jalan Allah tentunya mendapatkan kemuliaan. Namun, seorang muslim juga bisa mendapatkan kemuliaan yang sama bahkan lebih baik. Salah satunya adalah dengan memperbanyak amal di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

    Terutama dengan melaksanakan puasa dimana seorang muslim diharuskan menahan hawa nafsu sehingga menorehkan pahala berlimpah dari Allah.

    3. Menghapus Dosa Selama Satu Tahun

    Dengan niat puasa Idul Adha dan melaksanakannya dengan benar, seorang muslim akan mendapatkan keberkahan yang luar biasa. Bagaimana tidak, amalan ini dapat menghapuskan dosa satu tahun. Bagi yang berkesempatan bertemu kembali dengan bulan Dzulhijjah, maka sebaiknya tidak melewatkan amalan ini.

    Adapun kemuliaan ini bisa didapaatkan apabila seorang muslim melaksanakan puasa Tarwiyah. Ucapkanlah niat untuk amalan tersebut pada tanggal 8 Dzulhijjah. Terutama setelah selesai puasa tujuh hari di bulan Dzuhijjah.

    4. Menggugurkan Dosa Dua Tahun

    Betapa banyaknya amal shalih yang bisa dilakukan menjelang hari raya Idul Adha. Balasan yang diberikan pun tidak tanggung-tanggung jika seorang muslim meniatkannya karena Allah Ta’ala. Perlu diketahui bahwa puasa Idul Adha tidak hanya dianjurkan bagi yang pergi berhaji.

    Bagi umat Islam yang tidak menjalankan salah satu rukun Islam tersebut tetap dianjurkan melaksanakan amalan sunnah. Terutama puasa Arafah yang dilaksanakan tepat sehari setelah puasa Tarwiyah.

    Dengan demikian, puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah dengan keutamaan yang tidak kalah baiknya.  Bagaimana tidak, niscaya seorang muslim akan digugurkan dosanya selama dua tahun jika melaksanakan amalan ini. Adapun dalil mengenai keutamaan yang satu ini yaitu sebagai berikut.

     “Puasa Asyura dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu, dan puasa Arafah itu dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. An Nasaa’i).

    5. Satu Hari Berpuasa Setara dengan Satu Tahun

    Jika melewati bulan Dzulhijjah dengan penuh amalan shalih, maka pahala yang didapatkan akan begitu berlimpah. Pada dasarnya, ibadah di sepuluh hari pertama bulan penuh keberkahan ini berlipat ganda dibandingkan bulan lain.

    Adapun sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah waktu yang disukai oleh Allah Ta’ala. Tak heran jika umat muslim yang berpuasa di waktu tersebut akan mendapatkan ganjaran besar, yaitu satu hari berpuasa setara dengan satu tahun di bulan lain.

    Tidak hanya itu, ketika melaksanakan salat malam pun pahalanya setara dengan salat saat malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan. Adapun penjelasan tentang keutamaan ibadah satu ini tercantum dalam hadits sebagai berikut.

    “Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan satu tahun berpuasa, satu malam mendirikan salat malam setara dengan salat pada malam Lailatul Qadar.” (HR At-Trmidzi)

    Dengan niat puasa Idul Adha karena Allah Ta’ala, maka akan ada banyak keutamaan yang didapatkan. Amalan sunnah ini bisa dilaksanakan cukup fleksibel mengingat terdapat puasa Dzulhijjah, Tarwiyah, dan Arafah. Adapun untuk puasa Arafah sendiri sangat dianjurkan bagi yang sedang tidak melaksanakan ibadah haji.

    Baca juga artikel yang berkaitan dengan agama :

  • Doa Nabi Ismail Dalam Al-Qur’an Agar Allah Terima Amalnya

    Doa Nabi Ismail Dalam Al-Qur’an Agar Allah Terima Amalnya

    Doa Nabi Ismail – Nabi Ismail adalah salah satu nabi dari 25 nama nabi da Rosul yang wajib diimani oleh ummat muslim. Beliau adalah putra dari Nabi Ibrahim As dan Siti Hajar. Nabi Ismail juga merupakan sebagai nabi dan rasul yang diberi wahyu oleh Allah SWT dan memiliki tugas untuk menyampaikan ajaran-Nya kepada umat manusia.

    Menurut sejarah, Nabi Ismail dianggap sebagai bapak dari suku Arab dan keturunan yang dijanjikan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim. Nabi Ismail sangat dimuliakan ummat islam yakni sebagai salah satu nabi yang memiliki tempat penting dalam sejarah dan ajaran agama Islam.

    Seperti para nabi dan rasul lainnya, Nabi Ismail juga memiliki doa-doa yang tercatat dalam kitab suci Al-Quran dan sampai saat ini masih populer dikalangan ummat muslim untuk dijadikan amalan.

    Selengkapnya terkait beragam doa nabi Ismail As hanya dapat disimak diartikel balitteknologikaret.co.id.

    Beberapa Doa Nabi Ismail Yang Populer Dikalangan Ummat Islam

    Beberapa Doa Nabi Ismail Yang Populer Dikalangan Ummat Islam

    Setiap nabi dan rasul dalam agama Islam memiliki doa-doa yang tercatat dalam kitab suci Al-Quran dan sumber-sumber keagamaan lainnya. Doa-doa tersebut merupakan ungkapan dari kerendahan hati, permohonan dan kebutuhan dalam menjalankan dakwah atas izin dan perintah Allah SWT.

    Tidak ubahnya seperti Nabi Ismail As tentunya memiliki doa yang kerap kali dibaca bahkan termaktub di dalam Al-Qur’an, hingga saat ini doa tersebut masih di dawamkan oleh sebagian ummat islam.

    Doa Nabi Ismail Ketika Akan Disembelih

    Dalam sejarah Islam diceritakan bahwa ketika Nabi Ibrahim akan menyembelih Nabi Ismail atas perintah Allah SWT. Keduanya sama-sama berserah diri kepada kehendak Allah dan mendoakan agar kehendak-Nya terlaksana.

    Nabi Ibrahim, yang sangat taat dan patuh kepada perintah Allah, mempersiapkan segala sesuatunya untuk melaksanakan perintah tersebut. Nabi Ismail juga bersedia untuk dipersembahkan sebagai kurban dan tidak mengeluh atau menolak perintah tersebut.

    Namun, ketika Nabi Ibrahim bersiap untuk menyembelih Nabi Ismail, Allah SWT mengirimkan malaikat Jibril untuk menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba yang dijadikan kurban pengganti.

    Adapun bacaan doa Nabi Ismail ketika akan disembelih adalah seperti dibawah ini :

    سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

    Artinya :

    Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sobar

    Doa tersebut diabadikan dalam Al-Quran surat As-Saffat Ayat 102, Allah SWT berfirman :

    فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ( الصّٰۤفّٰت : ١٠٢)

    Artinya :

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. As-Saffat ayat 102)

    Doa Nabi Ismail As Dalam Al-Qur’an Agar Amalannya Diterima

    Doa Nabi Ismail As Dalam Al-Qur'an Agar Amalannya Diterima

    Salah satu cara agar doa seorang hamba mudah diterima Allah SWT adalah dengan menghadirkan rasa Khauf dan Raja’ (rasa Takut dan Harap).

    Bahkan dalam islam menghadirkan rasa takut dan harap pada saat berdoa sangat dianjurkan. Karena kedua hal tersebut dapat memperkuat iman dan meningkatkan kualitas ibadah seseorang.

    Rasa takut atau khauf dalam berdoa mencerminkan rasa takut dan pengakuan atas keagungan, kebesaran, dan kekuasaan Allah SWT. Hal ini dapat memperkuat iman seseorang, serta memperkuat hubungan manusia dengan Allah SWT.

    Dalam hal ini, seorang muslim menyadari bahwa hanya Allah SWT yang berkuasa atas segala sesuatu, sehingga ia harus berusaha menjalankan perintah-Nya dengan sepenuh hati dan menghindari segala sesuatu yang dapat membuat Allah SWT murka.

    Sementara itu, rasa harap atau raja’ dalam berdoa mencerminkan keyakinan seseorang atas rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Dalam hal ini, seorang muslim menyadari bahwa hanya Allah SWT yang dapat memberikan kebahagiaan dan keberhasilan dalam hidup ini.

    Seorang muslim berharap kepada Allah SWT agar doa-doa dan usahanya diterima, serta dijauhkan dari segala sesuatu yang dapat membahayakan dirinya.

    Menghadirkan rasa Khauf dan Raja’ agar amalannya diterima Allah SWT, sangat selaras dengan doa Nabi Ismail As yang termaktub didalam Al-Qur’an.

    Adapun doa Nabi Ismail As dalam Al-Qur’an agar amalannya diterima dapat dilihat dibawah ini :

    وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

    رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

    Artinya :

    (Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, (jadikanlah) dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan manasik (rangkaian ibadah) haji, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.

    Doa Nabi Ismail As Dalam Al-Qur’an Meminta Perlindungan

    Berdasarkan ajaran agama Islam, doa meminta perlindungan kepada Allah SWT sangat dianjurkan sebagai bentuk perlindungan terhadap segala macam bentuk bahaya dan godaan dari setan dan manusia.

    Setan adalah musuh besar manusia yang senantiasa berusaha memperdaya dan menggoda manusia agar menyimpang dari jalan yang benar. Oleh karena itu, dengan meminta perlindungan kepada Allah SWT, manusia diharapkan dapat terhindar dari pengaruh dan godaan setan.

    Salah satu doa meminta perlindungan adalah yang dicontohkan oleh Nabi Ismail As yakni seperti dibawah ini :

    وَقُلْ رَّبِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيْنِ ۙ وَاَعُوْذُ بِكَ رَبِّ اَنْ يَّحْضُرُوْنِ

    Artinya :

    Katakanlah, “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada-Mu, ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.

     

    Baca Juga :

    Klik disini